Dulu gue tuh tipe yang mikir kalau belajar itu harus duduk manis di meja, buku terbuka rapi, suasana hening, dan punya waktu dua jam penuh tanpa gangguan. Kalau nggak begitu, rasanya nggak sah disebut belajar. Dan karena punya dua anak yang masih SD plus suami yang kerja shift, waktu dua jam penuh tanpa gangguan itu ya... nggak pernah ada.
Selama bertahun-tahun gue merasa bersalah. Kayak ada yang salah sama gue karena nggak bisa "serius" belajar. Sampai akhirnya gue sadar, masalahnya bukan di gue yang nggak punya waktu, tapi di cara gue memandang belajar itu sendiri.
Kejadian di Ruang Tunggu Les yang Mengubah Segalanya
Suatu sore, gue nungguin anak gue les matematika. Biasanya gue cuma scroll HP, main game, atau ngobrol sama ibu-ibu lain. Tapi hari itu gue lagi bawa buku tentang psikologi anak yang udah tiga bulan nggak kelar-kelar dibaca. Gue buka, baca satu halaman, terus anak gue udah keluar.
Satu halaman. Cuma satu halaman dalam 45 menit. Tapi anehnya, gue inget banget isi halaman itu. Bukan cuma baca, tapi gue sempat mikirin, ngaitin sama kejadian di rumah, dan ngerasa "oh iya ya, pantesan anak gue gitu."
Baca juga: Sering Bolak-Balik Bandara? Begini Cara Belajar Efektif Ala Pelancong
Pulang dari situ, gue mulai iseng nyoba baca satu halaman lagi pas nungguin cucian selesai di mesin. Satu halaman lagi pas masak air buat bikin teh. Satu halaman lagi pas nungguin suami pulang.
Seminggu kemudian, buku itu kelar. Dan yang lebih penting: gue masih inget sebagian besar isinya.
Kenapa Belajar Sambil "Nungguin" Justru Lebih Nempel
Gue penasaran, kok bisa ya? Dulu gue belajar dua jam di meja, besoknya udah lupa. Sekarang belajar lima menit di sela-sela, malah nempel.
Setelah gue baca-baca lagi, ternyata ada penjelasannya. Otak kita itu nggak didesain buat fokus lama-lama tanpa jeda. Justru jeda dan istirahat singkat itu yang bikin informasi "diproses" lebih dalam. Kayak adonan kue yang harus diistirahatkan sebelum dipanggang.
Selain itu, belajar di sela-sela aktivitas lain bikin otak kita ngelakuin yang namanya spaced repetition tanpa sadar. Kita ketemu informasi yang sama berkali-kali dalam waktu yang terpisah-pisah. Dan itu jauh lebih efektif daripada belajar sekali duduk sampai pusing.
Belajar itu bukan soal seberapa lama kita duduk, tapi seberapa sering kita kembali.
Cara yang Gue Pakai Sekarang (dan Bisa Kamu Coba)
Gue nggak bilang ini cara yang paling benar. Tapi kalau kamu ibu rumah tangga yang ngerasa "nggak punya waktu buat belajar," mungkin pengalaman gue bisa jadi inspirasi.
1. Pecah jadi potongan kecil banget
Jangan target "baca satu bab." Targetnya cukup "baca satu paragraf." Kalau ternyata lanjut, syukur. Kalau nggak, ya udah. Satu paragraf tetap lebih baik daripada nol.
Gue sekarang punya target absurd: satu halaman per hari. Kadang cuma setengah halaman. Tapi karena konsisten, dalam sebulan bisa kelar satu buku.
2. Manfaatkan momen "nungguin"
Nungguin air mendidih, nungguin anak mandi, nungguin cucian selesai, nungguin suami pulang, nungguin antrian di kasir. Semua momen itu kalau ditotal bisa satu jam lebih per hari. Dulu gue habisin buat scroll HP tanpa arah. Sekarang sebagian gue pakai buat baca.
Nggak harus buku fisik kok. Kadang gue baca artikel di HP, kadang dengerin podcast sambil lipat baju. Yang penting ada yang masuk ke kepala.
3. Jangan tunggu "suasana sempurna"
Ini pelajaran paling mahal yang gue dapat. Dulu gue nunggu anak-anak tidur, rumah rapi, baru belajar. Hasilnya? Anak-anak tidur jam sembilan, gue udah ngantuk juga. Rumah rapi itu nggak pernah terjadi.
Sekarang gue belajar di tengah kekacauan. Anak main lego di samping gue, gue baca. Suara TV nyala, gue tetap baca. Ternyata otak kita lebih lentur dari yang kita kira.
Yang Gue Pelajari tentang Diri Sendiri
Selama ini gue pikir masalahnya adalah waktu. Ternyata masalahnya adalah ekspektasi gue tentang bagaimana belajar itu "seharusnya" dilakukan.
Gue pikir belajar itu harus sempurna, harus fokus total, harus punya ruang khusus. Padahal belajar yang efektif itu ya yang beneran dilakukan. Bukan yang paling ideal di atas kertas.
Dan ada satu hal lagi yang gue sadari: belajar itu ternyata bukan cuma buat anak-anak atau mahasiswa. Ibu rumah tangga juga butuh terus belajar. Bukan cuma buat nambah ilmu, tapi buat ngerasa kalau kita masih berkembang. Masih punya sesuatu yang jadi milik kita sendiri di tengah kesibukan ngurus orang lain.
Ada satu kejadian lucu. Suatu hari anak gue nanya soal kenapa langit biru. Gue jawab pakai penjelasan yang gue baca beberapa hari sebelumnya di sela-sela nungguin dia les. Dia kaget, "Ibu kok tau?"
Gue cuma senyum. Nggak perlu cerita kalau gue tau dari baca lima menit sambil nungguin dia.
Jadi kalau kamu sekarang ngerasa "ah, gue mah nggak punya waktu buat belajar," coba deh mulai dari satu halaman. Satu paragraf. Satu menit. Sambil nungguin apa pun yang biasanya kamu tungguin.
Karena yang penting bukan seberapa banyak, tapi seberapa sering kamu kembali.